Rabu, 10 Juni 2015 - 07:22:32 WIB
Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Motivasi Kerja Pegawai di Kantor Regional IX BKN Jayapura
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel Kepegawaian - Dibaca: 5851 kali

  Oleh: Yohanis Tangdiasik


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi kerja pegawai di lingkungan Kantor Regional IX BKN Jayapura, metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan jumlah sampel 17 orang dari jumah populasi sebanyak 85 orang. Penarikan sampel dilakukan secara acak untuk menguji hipotesis penelitian yaitu: ada pengaruh faktor kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai di Kantor Regional IX BKN Jayapura digunakan metode statistik dengan uji product moment dari pearson dengan = 0,05. Dari hasil penelitian yang dilakukan, hipotesis yang diajukan dapat diterima. Hasil penelitian (0,75) yang mana lebih besar dari r-tabel yaitu (0,361). Dengan demikian dapat dilihat bahwa apabila kepemimpinan semakin baik, maka motivasi kerja pegawai di Kantor Regional IX BKN Jayapura juga semakin baik. Besar variabel kepemimpinan terhadap motivasi kerja dilakukan dengan mencari koefisien determinan (D) yang diperoleh sebesar 57%. Dengan demikian ada sebesar 57% peningkatan motivasi kerja yang ditentukan oleh faktor kepemimpinan, selebihnya masih ada variabel lain tidak tercaku dalam penelitian ini.

Kata kunci : Kepemimpinan, motivasi kerja
 

 

BAB I

PENDAHULUAN


 

Latar Belakang

Pemberian arahan dan petunjuk kepada bawahan adalah salah satu tugas pimpinan, agar sasaran yang hendak dicapai dapat dilaksanakan, sesuai dengan arah, jalan dan waktu yang tepat serta bisa efisien sesuai dengan misi organisasi. Kantor Regional IX BKN Jayapura merupakan suatu organisasi pemerintahan atau disebut dengan Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang mana memiliki visi dan misi dalam melaksanakan tugas, pokok dan fungsi. Dengan demikian seorang pimpinan harus mampu menggerakkan semua sumber-sumber daya manusia, sarana, dana serta waktu secara efektif dan efisien kedalam proses manajemen. Untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses merupakan proses yang panjang.

Jika ditelaah secara mendalam, kepemimpinan selalu bersifat hipolar, sehingga motor penggerak dalam suatu organisasi, seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya tidak hanya ditentukan oleh tingkat ketrampilan teknis yang dimiliki, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahlian menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik. Oleh karena itu seorang pemimpin dapat dikatakan berhasil, apabila tidak melaksanakan sendiri tindakan-tindakan yang bersifat operasional, tetapi mengambil keputusan, menentukan kebijaksanaan dan menggerakkan orang lain untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil dengan kebijaksanaan yang telah digariskan.

Pemimpin yang sukses mampu bertindak sebagai seorang pengarang tugas, pendorong yang kuat dan berorientasi pada hasil, sehingga mendapatkan nilai kepemimpinan yang baik. Ada juga pemimpin yang sukses karena mampu memberi wewenang kepada bawahan untuk membuat keputusan dan bebas memberikan sarana, mampu menciptakan jenis budaya kerja yang mendorong serta membuat pertumbuhan dan pendekatan.

Kondisi suatu organisasi bila secara psikologis pegawai kurang menunjang dan kurang termotivasi, akan berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Keberhasilan organisasi sangat mungkin disebabkan oleh adanya kontribusi kepemimpinan yang efektif dalam mengusahakan agar bawahan dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Dalam hal inilah pimpinan harus mampu mempengaruhi bawahannya dengan berbagai cara. Pimpinan harus dapat menugaskan kepada bawahan untuk melaksanakan tugas tertentu, dapat mendelegasikan wewenang dan meminta pertanggungjawaban. Disamping itu pimpinan harus dapat memberikan motivasi agar pada bawahan dapat melaksanakan tugasnya dengan rasa senang dan hasil yang baik tanpa ada rasa unsur paksaan dan tekanan.

Setiap pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain yang disebut dengan bawahan untuk membantunya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta untuk digerakkan sedemikian rupa sehingga bawahan memberikan pengabdian kepada organisasi. Menggerakkan bawahan supaya suka bekerja dan berprestasi untuk organisasi adalah berlainan dengan menggerakkan barang-barang. Bawahan mempunyai rasio dan perasaan, dengan memberikan motivasi atau alasan, maka penggerakkan bawahan tidak bersifat paksaan.

Setiap pimpinan dalam orgnanisasi tentunya berharap para pegawai untuk bekerja sebaik-baiknya dan patuh kepada semua peraturan yang ada dan apabila ada yang melanggar peraturan tentu akan diberi sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. Untuk memotivasi dari masing-masing pegawai berbeda-beda dalam melaksanakan tugas mereka, sesuai dengan tugas yang diembannya.

a.       Pengertian kepemimpinan

G.R. Terry (Sutarto 1995:17) dalam bukunya “Principle of Manajement” mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Ordway Tead (Sutarto 1995:12) dalam bukunya “The art of Leadership” mengatakna bahwa kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan.

Dari kedua pendapat diatas dapat kita susun definis kepemimpinan yang mudah dipahami yaitu rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan adalah sebuah proses yang melibatkan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dengan memberi kekuatan, motivasi sehingga orang tersebut dengan penuh semangat berupaya mencapai sasaran.

Kartono (1998) menyatakan bajwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki ketrampilan teknis, khususnya dalam suatu bidang hingga ia mampu mempengaruhi  perilaku manusia dalam kemampuan mengendalikan orang-orang dalam organisasi, agar supaya perilaku mereka sesuai dengan perilaku  yang diinginkan oleh pemimpin organisasi.

 

 

b.      Fungsi kepemimpinan

Hadari (1995:74) menyatakan bahwa secara operasional fungsi kepemimpinan dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan, sebagai berikut:

Fungsi instruksi yang merupakan fungsi ini berlangsung satu arah, pemimpin sebagai pengambilan keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya pada orang-orang yang dipimpin.

Fungsi Konsultatif sebagai fungsi yang berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah meskipun pelaksanaannya sangat tergantung pada pihak pemimpin.

Fungsi partisipasi hanya sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi juga terwujud pelaksanaannya ubungan yang efektif, antara pemimpin dengan dan sesama orang yang dipimpin.

Fungsi delegasi, dalam melaksanakan memberikan pelimpangan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.

Fungsi pengendalian, cenderung bersifat komunikatif satu arah meskipun tidak mustahil untuk dilakukan dengan komunikasi dua arah, dengan maksud bahwa kepemimpinan yang sukses/efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara searah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.

c.       Gaya kepemimpinan

Kartono (1986:21) menyatakan gaya kepemimpinan memiliki tiga polar dasar yang secara terinci dijabarkan lagi menjadi delapan pola, ketiga polar dasar dalam gaya kepemimpinan tersebut, sebagai berikut:

-          Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan tugas secara efekti dan efisien, agar mampu mewujudkan tujuan secara maksimal. Gaya kepemimpinan yang berpola kepada mementingkan pelaksanaan hubungan kerjasama, pemimpin memberikan perhatian yang besar dan keinginan yang kuat agar setiap orang mampu menjalin kerja sama. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya masing-masing, yang tidak dapat dilepaskan dari kebersamaan di dalam suatu unit atau organisasi sebagai satu kesatuan.

-          Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat dicapai dalam rangka mewujudkan tujuan kelompok atau organisasi adalah pemimpin memberikan perhatian yang besar, memiliki keinginan yang kuat agar setiap anggota berprestasi sebesar-besarnya. Proses kepemimpinan dipengaruhi juga oleh situasi sesaat, berarti untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif sangat diperlukan penyesuaian-penyesuaian.

d.      Tipe kepemimpinan

Kartono (1986:76) menyatakan bahwa setelah mengetahui gaya kepemimpinan digunakan untuk menekan bawahan. Dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut  dan kepatuhan yang bersifat baku, sebaliknya daripada tipe ini adalah Laissez Faire (Bebas), dimana pemimpin berkedudukan sebagai simbol saja, segala sesuatu dilakukan secara bebas pada orang yang dipimpin dalam pengambilan keputusan dan melakukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perorangan maupun berupa kelompok-kelompok kecil.

Tipe kepemimpinan demokratis, dimana kepemimpinan yang aktif, dinamis dan terarah. Pengendalian dilaksanakan secara tertib  dan bertanggung jawab. Pembagian tugas yang disertai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas.

Tipe pengayom merupakan layaknya kepala keluarga ibaratnya sebagai orangtua dalam keluarga yang mengayomi anggota keluarganya.

Tipe kepemimpinan administrasi dimana mampu mendayagunakan dan memanfaatkan orang-orang yang dipimpin agar bergerak ke arah pencapaian tujuan mampu mendorong orang-orang yang dipimpin, baik secara perorangn maupun bersama-sama dalam mewujudkan kegiatan yang telah diprogramkan untuk kepentingan organisasi.

Tipe kepemimpinan agigator diwarnai dengan kegiatan pemimpin dalam bentuk tekanan, adu domba, memperuncing perselisihan menimbulkan dan memperbesar perpecahan dan pertentangan dengan maksud untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.

e.       Pengertian motivasi

Motivasi merupakan fungsi dari berbagai macam variabel yang saling mempengaruhi dan suatu proses yang terjadi dalam diri manusia secara psikologis. Maka menurut Hamid (2003:31) menyatakan bahwa motivasi merupakan keadaan kejiwaan yang mendorong, mengaktifkan, menggerakkan usaha dan menyalurkan perilaku sikap dan tindak tanduk dengan kemauan keras bagi seseorang untuk berbuat yang selalu terkait dengan pencapaian tujuan.

Ada motivasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan memberikan insentif atau perangsang, agar pencapaian tujuan atau sasaran dengan maksud agar apa yang ingin dicapai dapat terealisasi, biasanya motivasi ini disebut dengan situasi obyektif, sedangkan ada juga motivasi subyektif yang merupakan keadaan yang terdapat dalam diri seseorang sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya.

f.       Analisa data

Untuk mengetahui kepemimpinan pada lingkungan Kantor Regional IX BKN Jayapura ada atau tidaknya pengaruh, maka perlu memperhatikan dalam memberikan perhatian, kepercayaan, partisipasi, keaktifan, simpati serta tanggung jawab dalam hubungan kerja dengan pegawai.

Dari hasil itu menunjukkan bahwa dari 17 orang responden yang menyatakan bahwa kepemimpinan yang diterimanya bersifat baik sebanyak 6 orang (33%) yang menyatakan cukup sebanyak 7 orang (40%) sedangkan yang menyatakan buruk sebanyak 4 orang (27%),

Dari hasil variabel motivasi kerja pada kenyamanan pegawai dalam melaksanakan tugas, kebebasan kepercayaan, untuk 17 orang responden memberikan pernyataan baik sebanyak 9 orang (53%), cukup baik sebanyak 5 orang (30%) sedangkan buruk sebanyak (17%).

Untuk mengetahui hasil akhir dari ini kebenaran hipotesis, maka diperlukan uji hipotesis korelasi.product moment dari pearson dengan menggunakan metode angka kasar, terdapat hasil dari 100% pegawai sebanyak 57% pegawai (48 orang) menyatakan faktor kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi kerja dan 43% lainnya (37 orang) menyatakan faktor kepemimpinan tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan motivasi kerja.

  BAB III
 

KESIMPULAN

Dari hal-hal yang dikemukakan diatas memberikan satu kesimpulan bahwa variabel kepemimpinan di lingkungan Kantor Regional IX  BKN Jayapura berada pada tingkat yang cukup baik, dengan persentase responden sebesar 40% dan variabel motivasi kerja berada pada tingkat yang baik sebesar 53%, secara nyata atau signifikan atas pengaruh terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai adalah sebesar 57%, dengan demikian maka variabel kepemimpinan dibutuhkan dan perlu untuk dikembangkan dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai serta efektivitas organisasi dalam pencapaian tujuan bersama.

   DAFTAR PUSTAKA

  G.R. Terry (Sutarto 1995:17) dalam bukunya “principle of manajement” mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Hadari (1995:74) mengatakan bahwa secara operasional fungsi kepemimpinan dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan.

Hamid (2003:31) mengatakan bahwa motivasi merupakan keadaan kejiwaan yang mendorong, mengaktifkan, mengarahkan usaha dan menyalurkan prilaku setiap tindak tanduk kemauan keras.

Kartono (1986:76) mengatakan bahwa setelelah mengetahui gaya kepemimpinan maka kita akan membahas tipe-tipe kepemimpinan.

Ordway Tead (Sutarto 1995:12) dalam bukunya “The art of Leadership” mengatakan bahwa kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan.




Copyright © 2015 by Kanreg IX BKN Jayapura All rights reserved.